Jumat, 27 November 2009

Cerpen

"Kamu Sahabatku..." 
                                                                                                               24 Mei 2009


“kenapa kalian setega ini padaku?” Hanya itu yang kudengar dari mulut Ratna saat memergokiku dan Ardi sedang bercakap-cakapan di kelas. Kemesraan yang biasanya dimiliki Ratna dan Ardi, kini telah kunikmati juga. Aku terdiam dan bingung menatap Ratna dengan berurai dan langkah penuh emosi. Ardi mengejar Ratna, berusaha menjelaskan semua. Entah kebohongan apalagi yang akan dia keluarkan untuk merayu Ratna. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada mereka, mungkin mereka sudah berbaikan atau mereka masih beradu mulut. Sejuta pikiran berkecamuk di otakku. Aku memang harus siap menghadapi segala resiko, bukankah dari dulu aku tahu Ardi adalah milik Ratna apapun alasannya, aku nggak boleh merusaknya. Yang sekarang aku takukan adalah kehilangan Ratna, kehilangan persahabatan, takut menghadapi sikap Ratna yang penuh keceriaan, tapi itu lebih membuatku tersiksa. Seorang teman datang menghampiriku dan bertanya tentang Ratna “mengapa Ratna menangis?”. Kuambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaannya, kusiapkan hatiku untuk menjawab semua yang terjadi.
Kuingat Ratna, dia yang sedang bersaing denganku untuk mendapatkan Ardi. Sungguh kejam, aku telah mengoreskan luka dihati Ratna. Aku selalu berharap kamu segera datang dan maki-maki aku sepuas hatimu mungkin itu yang bisa buatku mengerti. Ingatanku terbang kemana-mana. Aku menampak sewaktu kali mengenal Ardi. Seorang pemuda yang lumayan keren, dandanan santai, tatapan tajam, kulit bersih, bahkan lebih putih dari Ratna. Ops…….aku baru nyadar Ardi memiliki criteria cowok yang aku idamkan. Sesegara mungkin aku singkirkan pikiran itu. Semenjak itu kami sering SMS-an dan emailan. Namun terkadang aku merasa risih juga dan aku lebih memilih untuk tidak membalasnya.
“Ar, cariin pacar buat Dani dong………biar kita bisa dobel date!” Itulah yang sering dikatakan Ratna. Mendengar hal itu kami sering tertawa bersama. Kebersamaan kami otomatis membuat keakraban. Tidak aku pungkiri seringku merasa iri dengan Ratna dan terkadang aku berpikir suatu saat Ardi jadi pacarku. Hingga suatu hari benar-benar diluar dugaanku. Ardi datang kerumahku. Pertama kali aku berpikir dia membawa berita dari Ratna, karena mereka sedang marah.
“Ar, ada apa? Ratna baik-baik aja khan!” Tanyaku dengan perasaan takut. “Kenapa siy selalu mikirin orang lain. Ratna baik-baik aja kok!” Dengan suara lembut Ardi menjawab pertanyaanku. Kami cerita banyak malam itu dan sejak itu Ardi sering datang ke rumahku. “Ar sorry, bukannya aku ge-er, tapi aku benar-benar heran dengan kita berdua……….”.
“Sstt………!!!”. Ardi meletakkan telunjuknya dibibir memberi tanda agar aku berhenti padahal aku belum selesai bicara, “Jangan tanya kenapa karena aku tidak akan pernah bisa menjawabnya, aku tahu kamu heran. Tapi aku juga 1000X lebih heran. Aku suka kamu entah dari mana awalnya,yang pasti perasaan ini tak bisa dibohongi!”. Sebenarnya aku tahu jawaban seperti ini tidak akan membuatmu puas,tapi rasa berdetak dihati seperti genderang mau perang.
“Please, kumohon jangan katakana pada Ratna. Kamu nggak tahu bagaimana aku berusaha menahan perasaan ini, bagaimana sakitnya aku tidak bisa menyentuh dan merangkulmu”. Aku tak menyangka Ardi akan mengucapkan kata-kata yang menghanyutkanku kedalam cinta ini.
“Kamu seperti maya dalam hidupku, begitu dekat tapi sulitku sentuh” Tanpa sadar aku menggeleng.
“Jangan bilang kamu nggak suka aku, jangan bilang kamu nggak pernah menginginkanku jadi pacarmu, jangan Dan………!” Ardi meraih tanganku dan menarikku kedalam pelukannya. Aku nggak tau harus bilang apa dan aku biarkan diriku tenggelam dalam perasaan sendiri. Aku lupa arti persahabatan, aku lupa perasaan Ratna. Aku mulai menuruti apa yang diinginkan oleh hatiku.
*****
Pagi menjelang, tiba saatnya aku untuk bersekolah dan bertemu kembali dengan Ratna yang sedang marah padaku. Bel berbunyi dengan nyaring tanda pelajaran akan dimulai.
Guru masuk ke kelas dengan senyuman yang ramah.
“Selamat Pagi!” Sapa guru dengan senyuman.
“ Selamat Pagi!” Menjawab dengan serepak.
“Ratna dari mana saja mengapa terlambat?” Aku malu sekali untuk bertanya padanya.
“Dari kantin!” Menjawab dengan nada kesal.
“Mengapa tak ajak aku!” Aku malu sekali untuk bertanya padanya.
“Tak apa aku hanya ingin sendiri!” Dia menjawab dengan perasaan marah.
Ratna pergi setelah melihatku dan Ardi. Dia menyimpan kemarahan padaku dan Ardi. Tasnya diletakkan dengan melemparkan.
Temanku tersenyum ketika memberikan sobekan kertas yang tertulis “Dia tahu kamu disini dan dia mendengar apa yang Ardi katakan padamu kemarin” Selama pelajaran berlangsung aku yang duduk bersamanya merasa tersiksa dengan sikap Ratna yang diam tanpa kata.
Pulang sekolah kami jalan bersama karena kebetulan rumah kami searah dan berdekatan. Aku berusaha agar dapat berbicara dengannya. “Ratna aku mohon kamu boleh marahi aku, atau mungkin pukul aku sampai mati. Tapi tolong jangan hukum aku seperti ini!” Aku tak tahu apa yang aku katakan ini suatu penyesalan, sayang, atau persahabatan yang selama ini telah aku ingkari keberadaannya .
Dia mulai mengatakan sesuatu. Rasa takut bercampur senang menjalar dihatiku mengalahkan kecemasan yang sebelumnya menyergap bibirku. Ratna tiba-tiba tersenyum dan memanggil namaku.
“Dan……..!” Aku segera menoleh. Rasa bersalah dan senang bercampur aduk menjadi satu. Kutarik nafas panjang sebelum menoleh. Kupandang Ratna wajahnya terlihat ceria. Aku harus menghadapi semua ini. Aku tak percaya Ratna tersenyum padaku. Segera kupeluk tubuh Ratna sambil menangis.
“Sorry…...!” Hanya itu yang bisa aku katakan.
“Aku tidak akan menghukumu dalam bentuk apapun juga, karena kamu bukan temanku”. Aku tersentak mendengar kata-kata Ratna. Persendianku terasa dan tulang-tulangku hilang dari tubuhku.
“Inikah hukumanmu Ratna……..?” Hatiku berseru.
“Kamu lebih dari teman. Kamu sahabatku, saudaraku, dan kamu lebih dibanding 1000 Ardi!” kupeluk tubuh Ratna. Aku janji Ratna aku tidak akan menghianatimu lagi karena kamu bukan temanku melainkan sahabatku,saudaraku, dan kakakku yang sangat berarti untukku. Terima kasih Tuhan. **********************************************************************************

Senin, 12 Oktober 2009

Puisi Remadja

"Renungan Cintaku"
 

Tahukah kau kenapa matahari selalu menerangi harimu?
Itu karena dia mencintaimu...

Tahukah kau kenapa bulan selalu bersinar dimalam gelapmu?
Itu karena dia mencintaimu...

Dan tahukah kau kenapa bintang menghiasi tidur lelapmu?
Itu karena dia mencintaimu...


Begitupun juga aku…

Saat pagi merekah
Namamu selalu terlintas dibenakku..

Saat sang surya berpijak lurus diatas bumi
Detak jantungmu dapat kurasakan dijantungku..

Duhai kekasihku,luapkan saja perasaan cintamu 
Sungguh,pendapatku tentang cinta tak beda denganmu
Dan saat malam menerpa
Lelap jiwamu membuatku ingin selalu menjagamu..


Namun…

Pantaskah aku memilikimu?